Rabu, 08 Juli 2015
Mereka Hanya Butuh Senyum Dari Kita
Hal terindah di dunia ini adalah sebuah senyuman. Betapa tidak, saat sedang marahpun jika melihat sebuah senyuman dari seseorang maka hati ini terasa lebih tenang dan ringan. Banyak orang yang sulit tersenyum. Kenapa??? Karena beban hidup yang tengah dirasakan dan dijalaninya, karena takdir yang tidak sesuai dengan hati dan kehendaknya. Itulah mereka yang miskin hati dan sempit kesabarannya. Namun tidak kalah banyak orang yang hidup susah memiliki senyuman seluas samudera dan hati yang tulus dan penuh kesabaran. Mereka hidup dengan nyaman, meski perut sering terasa lapar, matahari yang panaspun tidak terasa. Mencari rezeki kesana kemari tanpa kenal lelah demi sesuap nasi. Pernahkah kita merenung dan memikirkannya. Sungguh besar dan luas nikmat Allah jika kita pandai bersyukur.
Seringkali kita melihat, salah satunya di bus, ya saat kita naik bus apa saja yang bisa kita temukan? Betul. Penumpang lain, para pengamen dan beberapa orang yang secara bergantian naik ke dalam bus kota untuk menjajakan dagangannya. Sempat suatu ketika saat Ramadhan keempat melihat kemudian memperhatikan dua orang pelajar dan seorang bapak, berusia sekitar setengah abad tepatnya 50an sedang membawa beberapa sapu tangan dan satu kantong plastik juga berisi sapu tangan dengan keringat yang bercucuran diwajahnya dan ia juga mulai tampak letih, tidak dia tampak sangat letih. Dengan semangatnya menawarkan dagangannya kepada setiap penumpang yang ada dalam bus. Ada yang tidak melihat wajah bapak tersebut, ada yang menolak dengan wajah cuek, kesal dan banyak lagi. Namun saat ia melihat dan menawarkan pada dua orang anak perempuan ya mereka tampaknya seperti dua orang Mahasiswa. Salah satu dari mereka menolak dengan sebuah senyuman. masyaAllah bapak tersebut terlihat senang ditambah sebuah senyuman darinya yang tampak sangat lepas karena menerima penolakan dengan sebuah senyuman.
Maka bandingkan. Saat kita tidak mampu membantu bapak itu dengan uang maka bantulah ia dengan memberikan sebuah senyuman berisi semangat dan ketulusan tanda kita menghargai pekerjaannya yang halal. Pernahkah terbesit dipikiran kita bahwa dia seperti ayah kita, bagaimana letihnya ia, besarnya kasih sayang dan pengorbanannya mencari uang hanya untuk kita. Pantaskah kita disebut anak jika menghargai bapak itu saja kita tidak bisa apalagi ayah kita. Bagaimana dengan anaknya. Kasihan sekali bapak itu jika ia bekerja hanya untuk anak yang tidak tau berterima kasih. Tidak ada yang patut kita persembahkan untuk Allah selain kata syukur. Bersyukur untuk mata yang dapat melihat hikmah dari kejadian, bersyukur untuk kehidupan yang lebih baik, bersyukur untuk kasih sayang orang tua dan bersyukur karena telah diberi kesempatan oleh Allah untuk melihat berbagai kejadian yang indah di dunia ini. Semoga mereka tetap dan selalu diberi kekuatan oleh Allah dalam menjalankan hari-harinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
keep smileee. :)
BalasHapus